Rabu, 13 September 2017

MENJADI GEMBALA YANG BAIK (Yoh. 10:1-21)



BAB I
PENDAHULUAN

            Menjadi seorang gembala merupakan suatu yang mudah, namun menjadi seorang gembala yang baik dan bertanggung jawab adalah suatu hal yang sangat sulit. Banyak gembala yang gagal dalam pelayanan karena tidak dapat beradaptasi dengan kondisi pelayanan, suka duka yang terjadi dalam pelayanan tersebut. Tidak hanya itu, banyak hamba Tuhan atau gembala jemaat yang menjadikan pelayanan sebagai lapangan kerja dalam mencukupi kebutuhan hidupnya. Sungguh mengharukan melihat kondisi pelayanan yang mulai menyimpang dari jalur kebenaran.
            Gembala yang baik selalu melakukan pelayanan dengan giat dan memilki loyalitas yang tinggi. Motivasi yang harus dibangun dalam pelayanannya adalah untuk kemuliaan Tuhan. Jadi apa yang dilakukan adalah semata-mata mencari kehormatan bagi kemuliaan Allah. Dedikasi yang tinggi sangat diperlukan oleh setiap gembala karena komitmen tersebut yang memampukan mereka untuk tetap bertahan dalam lading pelayanan. Gembala yang baik selalu memperhatikan domba-dombanya, apa yang dibutuhkan dan apa yang dialami oleh domba-dombanya. Dengan demikian ia akan memberikan makanan yang tepat kepada domba-dombanya, sehingga mereka mendapat kepuasan dan kesegaran yang progresif.
            Bertolak dari hal-hal di atas, melalui paper ini penulis ingin menjelaskan tentang pentingnya menjadi seorang gembala yang baik dan bertanggung jawab. Pokok pembahasan penulis berpusat pada pribadi Yesus yang merupakan contoh atau teladan sebagai seorang gembala yang baik. Penulis berharap tulisan ini dapat membuka kembali pemikiran para gembala di manapun bahwa menjadi seorang gembala yang baik sangatlah membutuhkan pengorbanan seperti yang telah dilakukan Yesus.



BAB II
HAKEKAT GEMBALA

A.    Pengertian Gembala
Secara harfiah gembala berarti orang yang memimpinj suatu kumpulan tertentu. Dalam kemus besar Bahasa Indonesia gembala berarti penjaga atau pemelihara binatang.

B.     Latar Belakang Gembala                                                                                                           

      Allah yang telah membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir ke Tanah Kanaan (Tanah Perjanjian), sangat mempengaruhi konsep pemahaman bangsa Israel tentang arti seorang gembala. Untuk dapat sampai ke tanah Kanaan diperlukan seseorang yang sanggup memimpin, menjaga atau menggembalakan bangsa Israel dalam perjalanan dan dari musuh-musuh yang harus dihadapi. Pengertian gembala yang dimengerti bangsa Israel, dipakai Tuhan Yesus untuk memperkenalkan diriNya sebagai gembala kepada murid-muridNya dan juga orang banyak. Di Palestina ysng terdapat banyak padang rumput yang hijau menyebabkan banyak orang bekerja menjadi gembala. Di dalam Alkitab hubungan Allah dengan bangsaNya sering digambarkan seperti gembala dengan dombanya (Mzm. 111:3).      
Tradisi Yahudi, gembala kurang mempunyai identitas, sebab waktunya lebih banyak dihabiskan dipadang bersama domba yang digembalakannya. Perhatiannya pokus kepada dombanya, ia sangat mnengenal dombanya, walaupun umumnya manusia menganggap gembala tidak ada apa-apa secara sosial, namun sesungguhnya usaha atau pekerjaan gembala sangat dibutuhkan manusia seperti susu, daging, bulu domba untuk dijadikan pakaian.
      Tuhan Yesus sering memperkenalkan diri-Nya sebagai orang yang dibutuhkan manusia:
1.   Sebagai roti kehidupan (Yohanes 6:35)
2.   Air kehidupan (Yohanes 7:38)
3.   Terang dunia (Yohanes 8:12)
4.    Gembala yang benar (Yohanes 10)
5.   Pokok anggur (Yohanes 15).

C.    Syarat Menjadi Seorang Gembala
1.   Taat pada perintah Tuhannya 
Gembala yang baik harus taat pada segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah untuk dilakukan. Mungkin perintah Allah tersebut kelihatannya bertentangan dengan kehendaknya, tetapi hal itu harus tetap dilakukan sebagai seorang gembala yang baik. Allah memberikan perintah bahwa seorang gembala harus berpegang pada perkataan yang benar (Tit. 1:9). Sering kali gembala lebih menyukai perkataan yang menyenangkan telinga jemaat dari pada perkataan yang dikehendaki Allah, kerena mereka takut jemaat tersinggung kemudian meninggalkan gereja.
2.      Peka terhadap situasi sekitarnya
Gembala yang baik selalu mengerti dengan keadaan lingkungan, khususnya jemaat. Apa yang sedang dibutuhkan oleh jemaat harus diketahui oleh gembala, sehingga ia dapat memberikan bantuan yang tepat bagi jemaat.
3.      Mampu melakukan apa yang diucapkan
Seorang gembala yang baik akan memiliki integritas dalam seluruh aspek kehidupannya. Integritas seorang gembala terbukti dari keputusan-keputusan yang diambilnya dan apa yang diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Ia tidak akan terpengaruh dengan berjuta suara yang menyeleweng dari firman Allah, tetapi ia tetap berpegang teguh pada kebenaran Alkitab. Apa yang benar selalu dipertahankan dan apa yang salah dibuang tanpa adanya kompromi sedikit pun.

D.    Fungsi Gembala
1.      Memelihara jemaat
Seorang gembala harus setia memelihara jemaat yang dipimpinnya. Jemaat tidak hanya suatu kumpulan yang homogeny, tetapi suatu kumpulan yahng heterogen yang terdiri dari berbagai karakter dan pola hidup yang bercorak. Keanekaragaman inlah yang biasanya menjadi beban bagi setiap gembala karena mengahadapi banyak orang dengan cirri khas masing-masing sangatlah membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Pemeliharanaan jemaat meliputi: pertama, pemberian makanan rohani. Sebagai kumpulan orang percaya, jemaat sangat membutuhkan pengajaran firman Allah untuk pertumbuhan rohani mereka. Untuk itu gembala harus kreatif dalam memberitakan firman Allah kepada jemaat, agar mereka senang dengan sajian gembala dan terus memiliki kerinduan untuk mndapatkan makanan rohani tersebut.
Kedua, menyelesaikan masalah dalam jemaat. Seorang gembala harus mampu menjadi pemberi jalan keluar bagi jemaat yang menghadapi masalah hidup. Jemaat yang bermasalah pasti akan datang mengaduh pada gembalanya karena mereka berpikir bahwa gembala adalah orang bijaksana yang sanggup memberikan solusi bagi masalah mereka. Tidak dapat disangkal bahwa banyak gembala yang kewalahan dalam menangani masalah jemaat karena mereka kurang peka terhadap apa yang sedang dialami oleh jemaat. Dengan demikian, sangatlah penting kedekatan hidup antara gembala dengan Tuhan, agar apa yang ia katakana boleh memberkati orang lain. Ketiga, mendoakan jemaat. Bagian ini merupakan suatu bidang yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh setiap gembala. Doa merupakan bagaian hidup dari orang percaya termasuk para gembala. Yakobus mengatakan bahwa doa orang benar bila dengan yakin didoakan angat beasar kuasanya (Yak. 5:16). Gembala harus rajin berdoa, tidak hanya untuk pribadinya endiri tetapi juga untuk jemaat yang ia pimpin. Doa seorang gembala sangat mempengaruhi pertumbuhan jasmani dan rohani jemaat.
2.      Mengajar jemaat
Seorang gembala harus cakap dalam mengajar dan mendidik jemaat. Hal ini sangatlah penting karena pengajaran yang baik dan berbobot dari gembala akan memberikan dampak yang bear bagi jemaat. Jemaat akan semakin bertumbuh dalam pengenalan yang dalam dan benar akan Kristus. Sebaliknya jiga seorang gembala selalu monoton dalam mengajar jemaatnya akan menyebabkan kekeringan rohani dan pengetahuan yang terbatas dari jemaat tersebut. Lebih mengerikan lagi apabila jemaat mulai bosan dengan pengajaran gembala, sehingga mereka mulai mencari suasana baru yang lebih menyenangkan dan membuat mereka merasa nyaman.
  
E.     Macam-macam Gembala
1.      Gembala yang berhati hamba
Gembala yang berhati hamba maksudnya adalah bahwa ia tetap rendah hati walupu telah menjadi gembala yang memiliki banyak jemaat. Sering kali seorang gembala mulai sombong ketika jemaatnya sudah banyak; gedung gerejanya sudah mewah; memiliki mobil pribadi; pastori yang bear dengan fasilitas yang mewah. Mereka merasa berharga dan terpandangan dengan adanya hal-hal di atas dan tidak lagi mau memperhatikan keadaan sekitarnya. Egoisme mulai tumbuh dalam hati mereka, sehingga mereka mulai berjalan keluar dari jalur Allah. Untuk sangatlah perlu adanya kesadaran dalam setiap gembala, baik gembala yang besar maupun yang kecil karena untuk tetap rendah hati dalam menikmati setiap berkat yang diberikan Tuhan dalam kehidupannya. Gembala yang rendah hati selalu merasa rendah di tempat yang tinggi, namun tidak selalu nyaman berada di tingkat yang rendah. Gembala yang rendah hati adalah gembala yang berhati hamba, yang menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang pelayan Tuhan.
2.      Gembala koboi
Pernahkah melihat koboi ataupun mengenalnya? Mereka biasanya menggembalakan sekawanan ternak dengan menaiki kuda dan ditangannya ada semacam cambuk yang digunakan untuk memukul ternak yang tidak taat. Koboi berjalan dari belakang ternak peliharaan tersebut sambil berteriak agar ternak-ternak tersebut dapat berjalan sesuai dengan keinginannya. Bayangkan saja apabila seorang gembala jemat seperti koboi, apa yang akan terjadi dengan jemaatnya? Gembala koboi identik dengan gembala yang bersikap otoriter dalam pelayanannya; ia seperti seorang pemimpin tunggal yang tidak dapat diganggu gugat dan selalu bersifat egois.
Gembala koboi tidak begitu peduli dengan keadaan jemaatnya, ia lebih memperhatikan kehidupan pribadi dan keluarganya. Pengajarannya begitu keras dan selalu menghendaki agar semua perintahnya dilakukan dengan cepat dan tuntas. Keadaan seperti ini akan membuat jemaat tertekan dan bias saja mereka lari dari gembala yang demikian karena tidak tahan akan intimidasi yang gembala. Kedekatan gembala koboi dan jemaat tidak terlalu intim, hubungan mereka terlalu kaku, layaknya hubungan antara atsan suatu perusahaan dan bahwahannya.

BAB III
YESUS ADALAH GEMBALA YANG BAIK

Tuhan Yesus memperkenalkan dirinya sebagai gembala yang baik. Hal ini bukan memuji diri sendiri apalagi sombong bukan, tetapi Tuhan Yesus sedang mengkonfrontasikan diri-Nya dengan gembala legal konstitusional yang tidak baik, yakni gambaran orang-orang Farisi, yang tidak bersedia menerima kenyataan mujizat Tuhan Yesus yang menyembuhkan orang buta, salah seorang Israel, yang notabene dan seharusnya menjadi tanggungjawab orang Farisi untuk digembalakan. Mereka malah mengusirnya. Tentunya tindakan pengusiran itu menunjukkan ketidakbaikan gembala yang ada 
( Yoh 10). Bukti bahwa Tuhan Yesus Gembala yang baik adalah:
A.    Gembala yang baik mengenal dan dikenal domba-domba-Nya (Ay. 9-11).
Tidak berlebihan kalau Tuhan mengenal kita selaku domba-dombaNya karena Ia yang menciptakan kita. Ia mengambil rupa manusia (Flp. 2:5-7) sehingga Ia sangat tahu sifat dan segala sesuatu tentang manusia. Seperti pengenalan Bapa akan Anak dan pengenalan Anak akan Bapa, menjadi gambaran yang sangat jelas mengenai pengenalan seorang gembala akan domba-dombanya. Karena Dia adalah Allah, maka Ia sanggup memenuhi segala kebutuhan domba-dombaNya. Melalui kasih dan penggembalaan dan tuntunan-Nya, maka kita mengenal Dia sebagai gembala yang baik. Apakah Tuhan Yesus mengenal Saudara?Ya itu pasti Tetapi apakah Saudara mengenal Dia ? Dia yang menjawab doa-doa saya dan Saudara. Ia yang tahu apa yang menjadi kebutuhan kita dan sanggup memenuhinya. Ia yang bukan hanya tahu tetapi merasakan apa yang kita rasakan. Ia tahu apa yang eilami oleh orang-orang percaya yang adalah domba-domba-Nya dan Ia sanggup untuk meolong domba-domba-Nya. Akitab menyatakan bahwa Ia mengenal sejak dalam rahim ibu mu (Mzm. 139:13); Ia mengenal kita lebih dari kita mengenali diri kita sendiri (Yeh. 18:20); Ia juga tahu apa yang ada dalam hati kita dan pikiran kita (Mzm 139 :23).
  
B.     Gembala yang baik memberi yang terbaik bagi domba-domba-Nya (Ay. 15)
Tidak ada pemberian yang terbaik dari seorang gembala selain memberikan nyawanya bagi keselamatan domba-domba-Nya. Tuhan Yesus melakukan itu semua dengan kesediaan-Nya mati di kayu salib untuk menanggung dosa-dosa dan pelanggaran kita (1Ptr. 2:22-24). Hanya dengan percaya kepada-Nya kita mendapat pengampunan dosa-dosa dan kehidupan yang kekal (1Yoh. 1:9). Mungkin ketika Saudara membaca tulisan ini Saudara mempunyai berbagai kelemahan sehingga Saudara menjadi minder dan merasa kecil? Ingat baik-baik bahwa harga diri kita bukan dibangun di atas dasar kelebihan pribadi tetapi dibangun di atas dasar korban Tuhan Yesus di kayu salib. Bayangkan! Allah bersedia berkorban dikayu salib untuk Saudara pribadi. Betapa berharganya Saudaradan saya di mata Tuhan. Buang keminderan, pandang Dia yang menghargai Saudara, tatap masa depan dengan penuh harapan.

C.    Gembala yang baik menyatukan domba-domba-Nya (Ay. 16:18)
Perhatikan kalimat .. ada lagi pada-Ku domba-domba yang bukan dari kandang ini... ay 16. Tentunya yang dimaksudkan domba-domba yang bukan dari kandang ini adalah orang-orang kafir, saya dan saudara yang bukan orangYahudi. Perkataan Tuhan Yesus di atas merupakan kesaksian yang sangat penting mengenai Yesus, yang datang ke dunia bagi seluruh dunia. Perbedaan antara kandang domba dan kawanan domba dalam kalimat berikut menunjukan kepelbagaian yang terdapat dalam kalangan anak-anak Allah. Ada banyak kandang domba tetapi satu kawanan domba. Satu kawanan dengan satu gembala. Kesatuan kawanan tergantung kepada satu gembala yang baik, yang mempersatukan. Betapa ajaibnya Gembala baik kita.

D.  Gembala yang baik mengasihi domba -dombanya
  1. Ia mencukupi keperluan domba-dombanya                                       
a.       Kepeluan Jasmani (Mzm 23 : 1-2)
b.      Keperluan Jiwani (Mzm 23 : 3)
c.       Keperluan Rohani (Mzm 23 : 6)

  1. Ia menuntun domba-dombanya
a.       Menuntun pada jalan berkat (Mzm 3:9; 23:2)
b.      Menuntun pada jalan damai sejahtera ( Mzm 23 : 4)
c.       Menuntun pada jalan keselamatan( Yes 59 : 1 )
d.      Menuntun sampai dalam kekekalan ( Maz 23 : 6)
  1. Ia menjaga domba-dombanya
a.       Menjaga dari marabahaya (Mzm 27 : 5)
b.      Menjaga dari sakit -- penyakit (Mzm 91:2-6)
c.       Menjaga dari kebinasaan (Mzm 40 : 3)          
  1. Ia menyelamatkan domba dombanya dari musuh
a.       Musuh orang percaya adalah iblis (Kej 3:15)
b.      Di mana ada Allah, berseraklah musuhNya (Mzm 68 : 2)


BAB IV
KESIMPULAN

Ternyata  gembala yang baik mengenal dombanya. Gembala yang baik selalu memperhatikan dan menyapa jemaatnya. Malalui pmbahaan di atas telah dibuktikan bahwa Yesuslah gembala yang sesungguhnya dan satu-satunya dalam hidup manusia. Hal ini penting sebab dalam dunia ini bisa saja sadar atau tidak sadar ada banyak yang dijadikan gembala dan bukan Yesus. Tuhan Yesus sebagai gembala yang baik bersedia dan bahkan telah mati agar manusia sebagai dombanya diselamatkan, tidak binasa melainkan memperoleh kehidupan yang penuh bahagia yakni kehidupan kekal (Yoh. 3:16). Yesus juga mengetahui semua musuh orang percaya dan Yesus pasti melindung mereka dari musuh-musuh tersebut. Untuk itu jadilah domba yang patuh, penuh penyerahan diri, supaya dipelihara oleh Yesus. Dalam menghadapi banyak pilihan meminta petunjuk Tuhan. Tetaplah percaya kepada Tuhan dan tetap berserah walaupun keadaan tidak seperti yang diharapkan. Mengenal Gembala yang benar yakni Tuhan Yesus, terbukti dari kepatuhan kepada Firmannya dan selalu taat beribadah.




DAFTAR PUSTAKA
Berkhof, Luois. Teologi Sistematika. Surabaya: Momentum, 2009.
Enns, Paul. The Moody Hand Book of Thology. Malang: SAAT, 2008.
Little, Paul E. Kutahu yang Kupercaya. Bandung: Kalam Hidup, t.t.
Ryrie, Charles C. Teologi Dasar 2. Yogyakarta: ANDI, 2008.

Thiessen Henry C. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas, 2000.

Jumat, 04 Agustus 2017

CALLING AND ELECTION 2 PETRUS 1:10

Ospek STA-Jember
Doa Malam bersama Calon Mahasiswa 
by: Pacel Zacharias

Apakah saudara yakin bahwa saudara telah dipanggil dan dipilih Allah? Apakah saudara yakin,  kalau saudara berada di tempat ini maka  saudara sementara  berada di dalam sebuah rencana Allah yaitu panggilan dan pilihan Allah. Saya kuatir bahkan takut kalau-kalau dalam pertengahan pertandingan saudara menjadi orang yang tersandung. Bahkan bukan saja tersandung namun jatuh dan akhirnya saudara ditinggalkan dalam arena pertandingan iman tersebut.
Kerinduan  saya adalah sekiranya saudara memiliki prinsip yang sama seperti rasul Paulus yaitu bahwa: aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun asal aku mencapai garis akhir (kis. 20:24). Bagi saya, sangatlah perlu untuk menyampaikan fakta atau kebenaran ini sebab sejarah di dalam Alkitab membuktikan bahwa yang berhasil dalam setiap gelanggang pertandingan iman adalah sisa-sisa  (“ Remain”) dari sekian banyaknya orang yang dipanggil oleh Allah. Dari sekian banyak orang yang hidup pada masa Nuh namun yang selamat hanya 8 orang. Dari sekian banyak orang yang yang keluar dari tanah Mesir namun yang berhasil memasuki tanah Kanaan hanyalah 2 generasi. Dari kedua belas murid Tuhan Yesus, yang berhasil hanya 11 murid. Itulah kebenaran: bahwa banyak dipanggil tetapi sedikit yang dipilih (mat. 22:14).
Akhirnya saya kembali ingin bertanya untuk meneguhkan saudara bahwa: apakah saudara adalah orang yang dipilih saat berada dalam panggilan itu.
Saya mau katakan bahwa status kita untuk saat ini adalah dipanggil, namun apakah saudara tetap berusaha dengan sungguh-sungguh dalam panggilan itu dan akhirnya saudara dipilih?
MAKA ITU RASUL PETRUS BERKATA: Karena itu saudara-saudaraku, berusahalah dengan sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh (ay. 10). Memang konteks firman ini ditulis oleh  Petrus untuk mengingatkan kalau para guru palsu sudah menyusup ke dalam Gereja. SEHINGGA:
Ø PETRUS  menyerukan orang Kristen untuk tetap bertumbuh dan tegak di dalam iman supaya mereka bisa mengenali dan memberantas penyebaran ajaran sesat.
Ø PETRUS JUGA menekankan keaslian Firman Tuhan dan kepastian kedatangan Yesus yang kedua kalinya.
Rasul Petrus mengingatkan orang-orang percaya pada waktu itu tentang:
a)  Waktunya singkat untuk tinggal bersama-sama dengan jemaat atau orang-orang percaya pada waktu itu (2 Ptr. 1:13-15), sementara gereja atau orang-orang percaya menghadapi bahaya besar (2 Ptr. 2:1-3). Yang saya mau bilang di poin ini yaitu kalau saudara yakin benar bahwa JIKA waktu SAUDARA singkat di STA-Jember hanya kurang lebih 3 atau 4 sedangkan masih banyak orang yang menantikanmu untuk DIBERI pengajaran yang alkitabiah maka saat ini saudara pasti mempersiapkan diri dengan baik sebelum keluar dari STA-Jember saat wisuda.
Karena begitu penting perihal memperhatikan umat yang dipercayakan Tuhan bagi seorang hamba Tuhan. MAKANYA rasul Paulus mengingatkan Timotius untuk memperhatikan dan mengawasi dirinya, pelayanannya dan pengajarannya sebab semuanya sangatlah penting untuk keselamatan dirinya sendiri dan semua orang yang mendengar ajarannya (1Tim. 4:16).
b)  Petrus menyerukan pembacanya untuk mengingat-ingat kembali (2 Ptr. 1:13) dan memperdalam pemikiran mereka dengan firman Tuhan atau pengajaran yang telah mereka terima oleh nabi-nabi kudus dan rasul-rasul (2 Ptr. 3:1-2). Supaya mereka dapat mengingat pengajaran itu dengan baik. Artinya Pada poin ini saya mau bilang lagi bahwa, jangan lupa firman Tuhan yang kamu dengar selama berada di STA-Jember supaya kelak engkau bertindak hati-hati sesuai dengan perkataan Tuhan agar suatu saat perjalananmu berhasil (Yos. 1:8).
c)   Petrus meminta agar orang-orang Kristen saat itu HARUS lebih dewasa dalam iman mereka yaitu dengan memahami hikmat Kristen dan memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan Yesus (2 Ptr. 1:5-9).
Bagaimana caranya agar panggilan dan pilihan kita makin teguh di dalam Tuhan?
1)Bertumbuhlah dalam kasih karunia (2 Ptr. 1:2-4)
Maksud bertumbuhlah dalam kasih karunia artinya kita harus semakin dewasa dan sadar akan kebaikan hati Allah (Terj. Sederhana Indonesia)
2)Milikilah pengenalan yang benar dengan Tuhan Yesus guru agung kita bahkan Juruselamat kita (1:2, 3, 8; 3:18).
SAUDARA TIDAK MUNGKIN DENGAN GIAT MAU BELAJAR TENTANG DIA JIKA SAUDARA sendiri BELUM ATAU TIDAK MEMILIKI PENGENALAN YANG SERIUS DAN BENAR AKAN DIA. AKIBATNYA SAUDARA BERADA DI SINI HANYA MEMBUANG-BUANG WAKTU SAJA DENGAN Hpan, Facebookan, Whatssappan, Igman, dan lain sebagainya. Tetapi jikalau saudara mengenal dia dengan baik maka saya percaya bahwa saudara AKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH BERUSAHA UNTUK.......(Ayat 5-7). Artinya pengenalan saudara dengan Tuhan Yesus tergantung pada imanmu, kebajikanmu, pengetahuanmu, penguasaan dirimu, ketekunanmu, kesalehanmu dan kasihmu. Wow sungguh komplit atau sungguh indahnya kita merespons panggilan dan pilihan Allah dalam hidup kita.
3)  Belajarlah tentang Dia dengan tekunlah dalam pengajaran kita suci maka saudara pasti memahami kehendak dan rencanaNya

Akhirnya, saya ingin memastikan semua yang ada di ruangan ini bahwa kita semua adalah orang-orang yang dipanggil dan dipilih oleh Allah sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:3, 11). Saya sangat yakin bahwa semua yang ada di tempat ini adalah orang-orang yang sudah dipanggil dan dipilih oleh Allah. Kita ada di sini bukan karena keinginan diri sendiri melainkan karena panggilan Allah melalui perjumpaan kita dengan Tuhan Yesus. Amen

Sabtu, 17 Desember 2016

Kehadiran yang memberi kesan indah Matius 2:1-12


Ibadah Pemuda GPdI "Ekklesia" Jember
Oleh : Pacel Zacharias

Sungguh suatu thema yang unik dan menarik? Kenapa menarik? Menarik sebab jarang kita temukan bahwa dalam sebuah kehadiran mengandung kesan. Untung-untungan kalau kesan dari kehadiran itu indah atau menarik. Jarang sekali kita menjumpai bahwa dalam kehadiran seseorang terkesan sesuatu yang menarik atau sukar untuk dilupakan sejarah atau ceritanya. Terkadang kita menjumpai bahwa setelah kita berjumpa dengan orang atau orang berjumpa dengan kita malah orang tersebut tidak ingin berteman dengan kita lagi.  Pernahkah saudara mengalami pengalaman demikian?  Pada cerita kali ini kita menjumpai atau melihat bahwa adanya kesan yang indah dan juga tidak indah dari kehadiran Tuhan Yesus Kristus. Indahnya kehadiran Yesus bagi para Majus pada waktu itu tetapi menjadi momok bagi Raja Herodes serta seluruh Yerusalem (ay.3). Bagi Para majus, inilah moment atau suatu kenyataan yang ditunggu-tunggu oleh mereka, tetapi bagi Raja Herodes inilah Kehadiran yang membawa bencana.
Coba kita perhatikan Matius 2:2, respons para majus saat mereka mendengar berita dan melihat tanda dari bintang di timur bahwa hadirnya seorang Raja (yang dikatakan para Nabi PL:  Raja yang memerintah orang Yahudi atau Israel?). Kata orang majus: KAMI DATANG UNTUK MENYEMBAH DIA (Ay. 2). SEDANGKAN RESPONS RAJA HERODES,
1)         Herodes terkejut (mendengar hal itu “Terkejutlah Ia beserta seluruh Yerusalem” (Ay. 3).
2)         Herodes mengumpulkan semua imam kepala dan ahli taurat bangsa Yahudi (ay. 4)
3)         Herodes meminta keterangan dari mereka tentang apakah benar Mesias itu dilahirkan (ay. 4)
4)         Herodes diam-diam memanggil orang-orang majus untuk mencari tahu apakah benar Mesias lahir dan memberi kabar kepadanya tentang dimana Mesias lahir supaya ia datang menyembahNya (ay. 7-8). Inilah yang saya maksudkan dengan kehadiran yang memberi kesan. Tapi sungguh sangat disayangkan kesan yang kita jumpai adalah kesan yang sungguh-sungguh mengecewakan.
SAUDARA-SAUDARA YANG DIBERKATI TUHAN, saya sangat tertarik dengan Tulisan Matius berkenaan dengan kesan yang kita baca dan renungkan bersama hari ini.
Kesannya ialah: saat orang majus melihat tanda bahwa telah hadir seorang raja yang luar biasa di bumi pada waktu itu maka,
Yang Pertama, orang majus datang dari timur ke Yerusalem hanya untuk menjumpai Mesias tersebut.
Yang Kedua, Dan Bertanya-tanya: Dimanakah Dia, Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu?
Perhatikanlah! Kata “BERTANYA-TANYA” artinya mereka tidak hanya bertanya sekali, namun bertanya secara terus menerus. Bisa saja mereka pergi ke sana kemari dan bertanya-tanya untuk menjumpai Yesus.
Saya kemudian merenungkan ayat ini terus menerus bahwa ternyata “Bagi para Majus kehadiran Yesus yang adalah Raja orang Yahudi adalah memberi pengharapan baru  dan memberi kesan yang indah luar biasa bagi mereka pada saat itu.
Saya kemudian Merenung dan berpikir serta mengemukakan sebuah pertanyaan yang begitu dramatis: SAMPAI SEJAUH INI, APAKAH KEHADIRAN YESUS MEMBERI KESAN YANG INDAH DALAM HIDUPMU?
UNTUK MENDAPATKAN JAWABAN DARI PERTANYAAN SUBSTANSIAL TERSEBUT, SAYA MEMBERIKAN BEBERAPA PERTANYAAN PELENGKAP YAITU:
a)      Sejauh ini, apakah saudara pernah mengalami kehadiran Yesus yang benar-benar memberi kesan yang indah?
b)      Jika pernah, apakah kesan yang indah itu kamu respons dengan kamu sungguh-sungguh dengan datang kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Raja kita? Atau saat kita datang kepada Yesus hanya sebatas formalitas? Kalau hari sabtu kita datang ibadah karena memang waktu perkumpulan pemuda untuk beribadah.
c)      Jika tidak pernah, apakah saudara masih tetap berusaha untuk mendapat kesan yang tak terlupakan saat datang pada Yesus?
SAUDARA, SAYA MELIHAT DARI INJIL MATIUS HINGGA YOHANES, ketika seseorang datang kepada Yesus maka selalu ada kesan yang terlupakan yang dialami orang yang berjumpa dengan Yesus. Sebagai contoh: PERKAWINAN DI KANA (YOH. 2:1-11). KESANNYA ADALAH TUAN PESTA BERJUMPA DENGAN YESUS, KEBUTUHANNYA DIPENUHI OLEH YESUS
SAAT BARTIMEUS DATANG KEPADA YESUS, DIA MENGALAMI MUKJIZAT YAITU MELIHAT. SAAT YESUS DATANG KE RUMAH ZAKHEUS DIA MENJADI BERTOBAT (LUK. 19:1-10).
TUHAN YESUS SENDIRI BERKATA BAHWA “MARILAH KEPADAKU MATIUS 11:28, DIA MEMBERI KELEGAAN KEPADA KITA. DAN MASIH BANYAK CERITA LAGI DI DALAM ALKITAB YANG TIDAK SAYA SEBUTKAN DI SINI. KATA YOHANES MURID YESUS: MASIH BANYAK HAL-HAL LAIN YANG DIPERBUAT YESUS, TETAPI JIKALAU SEMUANYA ITU HARUS DITULISKAN SATU PER SATU, MAKA AGAKNYA DUNIA INI TIDAK DAPAT MEMUAT SEMUA KITAB YANG HARUS DITULIS ITU (YOH. 21:25).
SELALU ADA PERTOLONGAN SAAT KITA DATANG KEPADA YESUS. KETIKA PARA MAJUS DATANG KEPADA YESUS MEREKA MENGALAMI SUKACITA BESAR DARI TUHAN. MUNGKIN HARI ITU MEREKA MEMILIKI BANYAK PERGUMULAN ATAU PERSOALAN HIDUP NAMUN SAAT DATANG PADA TUHAN YESUS MASALAH DUKACITA BERUBAH MENJADI SUKACITA YANG BESAR (MATIUS  2:10). MESKIPUN MEREKA CAPEK JALAN KAKI NAMUN SAAT JUMPA TUHAN CAPEK ATAU DUKACITA BERUBAH MENJADI SUKACITA BESAR (YOH. 15:11 & 16:24)
ARTINYA: KESAN INDAH SAAT KITA BENAR-BENAR DATANG DAN MENYEMBAH YESUS YAITU KITA BENAR-BENAR MENGALAMI SUKACITANYA TUHAN.
PERTANYAANNYA: APAKAH SAUDARA BENAR-BENAR MENGALAMI SUKACITA TUHAN? Jawabannya: Sukacita yang sejati hanya kita temukan di dalam Tuhan Yesus (Filipi 4:4)
Kalau kita belum benar-benar mengalami sukacita dari Tuhan maka kita belum mengalami dampak dari kehadiran Yesus. Kok bisa? Apa penyebabnya? PENYEBABNYA adalah pelanggaran dan dosa-dosa kita. Dalam Nehemia 8:11, Nehemia berkata bahwa sukacita Tuhan itu adalah perlindungan kita.
Jangan coba-coba mencari sukacita di luar Tuhan sebab jika kita mencari sukacita di luar Tuhan maka Tuhan pasti menghukum kita. Kata Yesus: Marilah kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Mat. 11:28). Inilah makna dan hadia natal bagi kita semua saat. Persiapkanlah dirimu untuk menerima kehadiranNya sebab kehadiranNya adalah kehadiran yang selalu memberikan kesan yang indah dan tak terlupakan selama-lamanya. Kata Yesus: Tinggallah di dalam Aku dan FirmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya (Yoh. 15:7). Selamat hari natal Yesus memberkati. Haleluya. Amen.

Senin, 21 November 2016

HEART OF A SERVANT – THE PRICE MUST YOU PAY “HARGA YANG HARUS DIBAYAR DALAM PEAYANAN KRISTEN” (ROMA 12:1,6-9)


Ringkasan Khotbah di Ibadah HUT Pemuda Remaja GPdI Ekklesia Jember Hari Sabtu, 12 November 2016 oleh Pdt. Lies Soriton.

Tuhan Yesus memberikan kepada setiap orang karunia-karunia yang berlainan. Kita bertanggungjawab untuk melakukan pelayanan sesuai dengan karunia yang kita miliki.
Kita harus menemukan dan mengembangkan karunia-karunia kita. Harus ada harga yang kita bayar. (ay.1) Melayani Tuhan perlu pengorbanan. Persembahkan tubuh kita untuk dipakai Tuhan dan tinggalkan segala dosa.
Kita harus menemukan karunia rohani apa yang kita miliki. Karunia rohani:
1.       Karunia Pelayanan (Efesus 4:11) – berguna untuk menyatakan rencana Allah yang Agung.
Jabatan-jabatan yang Allah berikan antara lain: rasul, nabi, penginjil, gembala, guru.
a.       Rasul – bisa mencakup semua karunia yang Tuhan berikan.
Rasul diibaratkan sebagai ibu jari. Ibu jari adalah jari yang dapat menyentuh jari-jari yang lain. Rasul dipakai oleh Tuhan dengan berbagai macam karunia.
b.      Nabi – penyambung lidah, tugas dan tanggungjawabnya adalah menyampaikan Firman Tuhan.
Nabi diibaratkan sebagai jari telunjuk. Jari telunjuk biasa digunakan untuk menunjuk. Nabi mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk menegur, menasihati orang yang tidak hidup seturut kehendak Tuhan dan menunjukkan jalan yang benar yang harus dilalui oleh setiap orang.
c.       Penginjil – dipanggil untuk menjadi saksi Yesus.
Penginjil diibaratkan sebagai jari tengah. Jari tengah adalah jari yang menjadi pusat perhatian karena posisinya yang berada di tengah dan ukurannya yang paling panjang dibanding dengan jari-jari lainnya. Penginjil mendapat perhatian banyak orang karena menyaksikan tentang Tuhan Yesus.
d.      Gembala – mengemban tugas menggembalakan jiwa-jiwa.
Gembala diibaratkan sebagai jari manis. Jari manis biasa dipakaikan cincin pernikahan. Gembala menikah dengan gereja, dipersatukan dengan gereja.
e.      Guru – meletakkan dasar iman, suka belajar.
Guru diibaratkan sebagai jari kelingking. Jari kelingking tampak kecil, namun dapat menjangkau bagian-bagian sempit. Guru (Pendidikan Agama Kristen)  mungkin dianggap jabatan yang biasa-biasa saja, namun melalui seorang guru (Pendidikan Agama Kristen) kita belajar sesuatu, kita dapat mengenal Yesus sehingga kita memiliki iman dan pengharapan di dalam-Nya.

2.       Karunia pernyataan (1 Korintus 12-4-11) – perkataan, kuasa, pemwahyuan.
a.       Perkataan – nubuat (berbahasa roh, menafsirkan bahasa roh dengan tujuan untuk membangun, dsb.)
b.      Kuasa – mengerjakan sesuatu (iman khusus, karunia untuk menyembuhkan, dsb.)
c.       Pemwahyuan – kata-kata hikmat, kata-kata yang benar dan tidak menyimpang, kemaampuan untuk membedakan berbagai roh.

·   Bagaimana cara mengetahui karunia kita?
a.       Mengikuti pogram pelatihan.
b.      Melayani bersama orang yang sudah berpengalaman.
c.       Mencoba semua jenis/bentuk pelayanan.
d.      Semangat terus dalam melayani Tuhan sesuai dengan kemampuan.
e.      Tidak menyerah atas suatu kegagalan.
f.        Minta pendapat orang yang dewasa rohaninya.

Semangat pelayanan kita terletak pada contoh/teladan Tuhan Yesus.
-          Sikap rela berkorban (Flp. 2:5-9).
-          Sikap rendah hati (Mrk. 10:45).
-          Taat dan setia.
-          Tidak mendendam (Luk.23:34).
Kesimpulan:
Dalam melayani Tuhan – dibutuhkan pengorbanan dalam bentuk apapun, kita perlu mengetahui karunia apa yang kita miliki, harus memiliki sikap rela berkorban, rendah hati, taat dan setia, tidak mendendam (meneladani Tuhan Yesus).
^_^ Tuhan Yesus memberkati ^_^

Senin, 24 Oktober 2016

PENGARUH PEMAHAMAN PELAYANAN TERHADAP SIKAP HIDUP YANG MELAYANI( Roma 12:11-17,Filipi 2:1-11)

ibadah Remaja
Lagu: Melayani, Melayani Lebih sungguh
Deskripsi Surat Filipi:
1.         Surat Filipi merupakan surat yang berisi ucapan Terima kasih atas pembrian jemaat saat Paulus berada dalam penjara
2.         Surat Filipi tidak berisi doktrin Formal yang mencolok namun terdapat keyakinan dan ikatan batin yang kuat antara jemaat Filipi dan rasul Paulus (Surat yang Paling Pribadi).
3.         Surat yang isinya berupa penyampaian penghargaan dan meyakinkan jemaat atas pemberian mereka serta membetulkan sejumlah kekacauan kecil seperti perasaan putus asa atas pemenjaraan rasul Paulus dan bayangan perpecahan yang kiranya dapat terjadi sewaktu-waktu.
Hipotesa: Diduga bahwa remaja (Para pelayanan Tuhan di Wadah Remaja GPdI “Ekklesia” Jember) masih kurang memiliki pemahaman yang benar terhadap pelayanan dapat diukur pada sikap Hidupnya.
1.         Menurut anda sendiri apa itu pelayanan?
2.         Sebutkan bermacam-macam pelayanan di wadah Remaja GPdI “Ekklesia” Jember?
3.         Di bidang manakah anda telah melayani di wadah remaja GPdI “Ekklesia” Jember?
4.         Perlukah kita terlibat secara langsung untuk melayani?
5.         Lebih mulia  yang mana “hanya datang dan beribadah” ATAU “Datang ke Gereja dan terdaftar sebagai tim Sekerja Allah, God Fellow Workers”?
6.         Setuju atau tidak?kalau pelayanan yang kita lakukan adalah salah satu dari sebagian besar ungkapan syukur kita kepada Tuhan?
7.         Siapkah anda Tuk melayani jika diberi kepercayaan tuk melayani?
8.         Apakah Tuhan turut bangga jika anda mau melayani Dia?

A.        Definisi pelayanan Secara alkitabiah
1.       Definisi secara umum
Pelayanan adalah usaha untuk melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan/jasa. Dalam Yunani:Diakonia(Feminim) dan Diakonos (Maskulin), perbedaannya terletak pada pelayanan pemberitaan injil dan yang satunya pelayanan meja. Sedangkan pelayanan Kristen lebih ditekankan lagi dengan memakai kata Doulos yaitu budak/hamba.
2.       Definisi secara khusus
Kesimpulannya, pelayanan adalah suatu pemberian yang Cuma-Cuma atau pekerjaan yang mulia yang dibrikan oleh Allah kepada orang-orang percaya untuk melayani, menyiapkan, mengurus, menyediakan, meladeni kebutuhan orang lain(Pengabdian diri) tanpa imbalan/jasa.




B.        Sikap hidup atau respons kita terhadap pelayanan
1.       Berani
2.       Melayani dengan tulus
3.       Untuk menyukakan Allah bukan untuk diri sendiri
4.       Tidak bermulut manis
5.       Mau saling berbagi
C.        Konsep  kita tentang pelayanan
Sangatlah subjektif dan Kompleks jika kita Berbicara mengenai konsep pemahaman seseorang tentang sebuah pelayanan. Jadi semuanya tergantung pada sejauh mana kita memahami pentingnya pelayanan dan motivasi kita dalam melayani Tuhan.
D.        Konsep Alkitab tentang pelayanan
Pelayanan menurut Alkitab lebih dari sebuah tanggung jawab dan kewajiban bahkan sebuah pengabdian diri sebagai hamba. Apa kata Maria:Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan. Kapan kita jadi hamba Tuhan?saat kita menerima penyataan Roh dimana kita beriman pada Yesus yang telah mati dan bangkit atas dosa kita (Luk. 1:38a; Rm. 1:4).
1.       Yesus datang ke dunia bukan untuk dilayani tapi melayani (Mrk. 10:43-45).
2.       Filipi 2:1-11

E.         Hal-hal penting yang perlu dipahamai dalam pelayanan Gereja
1.       Pelayanan bukanlah kesempatan unjuk kehebatan
2.       Masing-masing gereja memiliki liturgi atau cara dalam beribadah oleh sebab itu, Jangan samakan pelayanan kita dengan pelayanan di gereja A, B, atau C.
3.       Hidup rohani seseorang sangat bergantung besar pada firman
4.        Hindari pemahaman bahwa momen pelayanan merupakan momen memuaskan hasrat emosi karna faktor “KELEBIHAN”.
F.         Pengaruh konsep kita tentang pelayanan Dan sikap hidup yang melayani
Konsep yang kita miliki dapat berpengaruh pada sikap hidup kita saat melayani Tuhan. Pelayanan kita bisa menjadi tidak membawa berkat bagi Tuhan dan diri kita sendiri karna fokus kita bukan untuk Tuhan namun kepuasan dari mencari jati diri.
G.       Motif Pelayanan di luar Gereja
1.       Rajin mengabdikan diri pada orang Tua/Keluarga merupakan sebuah pelayanan

2.       Jadilah anggota gereja yang berguna bagi gereja kita sendiri.